Lessons from George

July 13th, 2008 by woro-14

User1963_1156854217_2


Never
be a morning person, sangat sedikit hal di dunia ini yang bisa
membuat saya bangun pagi. Salah satu dari yang sangat sedikit itu
adalah Curious George. Saya mulai nonton Curious George secara tidak
sengaja. I was randomly changed my channel during Indonesia This
Morning and end up with a cartoon show. I never be a huge fan of
cartoon, so I wasn’t really excited at first. But then, muncul
monyet kecil yang sangat lucu. It’s Curious George. He’s so cute
sampe saya melupakan kegantengan Tommy Tjokro yang lagi siaran
Indonesia This Moring. Sejak itu saya sibuk juggling my remote biar
bisa nonton George dan Tommy tiap pagi karena mereka tayang di jam
yang sama.

George
adalah monyet kecil dan pintar Afrika yang dibawa ke Amerika oleh
Pria Bertopi Kuning dari salah satu ekspedisinya.
Senyum
dan gerak-geriknya lucu banget! George suka banget mengeksplore
lingkungan sekitarnya. Dia tertarik dengan banyak hal kecil dan
sederhana yang most people will never notice. That’s why namanya
Curious George. Gara-gara keingintahuannya itu, George mengalami
berbagai pengalaman dan kejadian yang menarik.

Banyak
alasan kenapa I immediately became a loyal viewer of the show.
Animasi di Curious George sederhana sekali dan minim digital effect
seperti yang sekarang banyak digunakan di film-film animasi. Latar
belakangnya selalu ceria dan menyenangkan. Tidak ada gerak-gerak
hiperbola yang bikin pusing kayak di Naruto atau Tom and Jerry. Jalan
ceritanya juga sederhana dan mudah dipahami *acara ini
memang
ditujukan untuk anak-anak*. Nonton George di pagi hari soon jadi
ritual pagi saya yang baru, menggantikan memandangi Tommy Tjokro di
Indonesia This Morning.

Banyak
hal yang b
isa
saya pelajari dari George. Satu, curiosity is exactly what you need
to keep your life exciting. Never stop asking
why,
a typical word for a three-year-old. That’s why kids are always
happy and excited about their lives. As we grown up, we reduced the
“why” question karena banyak hal: malu, takut dianggap bodoh,
takut dipandang nggak tahu apa-apa, which actually reduced our
excitement  of life. Dua, be grateful dan graceful with everything,
even the most simple thing. Notice simple things or events around you
and enjoy it. Banyak hal menarik yang bisa muncul dari situ yang akan
membuat kita bersyukur betapa menyenangkan hidup kita sesungguhnya.
Tiga, never stop learning. Open our eyes, ears, senses, and heart to
every thing, opportunity, events and feeling yang mungkin muncul di
sekitar kita. They’ll teach you a whole lot of things.

I
found George energizing and lifting my mood every morning. Yet, the
show is challenging me to wake up even
earlier.
Dia ganti jam tayang dua kali. Biasa tayang jam 7, beberapa minggu
yang lalu jadi jam 6.45, dan beberapa minggunya lagi jadi 6.30.
Great. Enam tiga puluh itu bagaikan subuh buat saya. Talking bout
what one would sacrifice for a cartoon show.. Tune in antv, 6.30
every morning, meet George, and let him share his excitement of life
to you.

In the Name of..

June 3rd, 2008 by woro-14

Saya
menuruti saran Oliph untuk logged on ke
http://www.blogthings.com/whatsyournameshiddenmeaningquiz/
to find out the meaning of my name. Saya merasa terpukul dengan
kenyataan bahwa sekumpulan program komputer yang tak bernyawa
ternyata mampu mendeskripsikan diri saya better than I ever do. Shame
on me..Kekeke..

Jadi
inilah kata

analis tak bernyawa itu.

 

"You
are very charming… dangerously so. You have the potential to
break a lot of hearts.
 (I
knew it!! Muhaha.. *tonjok*)

You
know how what you want, how to get it, and that you will get it.

You
have the power to rule the world. Let’s hope you’re a benevolent
dictator!

 

You
are well rounded, with a complete perspective on life.

You
are solid and dependable
 
(nope,
independable)
.
You
are loyal, and people can count on you.

At
times, you can be a bit too serious. You tend to put too much
pressure on yourself.
 
(absolutely
true. Hyuhuh..)

You
are wild, crazy, and a huge rebel. You’re always up to something.
You
have a ton of energy, and most people can’t handle you. You’re
very intense.
You
definitely are a handful
 
(aih..tak
bisa mengelak)
,
and
you’re likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot
of fun.

You
tend to be pretty tightly wound. It’s easy to get you excited…
which can be a good or bad thing.
You
have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don’t
stick with any one thing for very long.
 
(hehe..
begitulah..)
You
have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your
biggest problem is making sure you finish the projects you start.

You
are friendly, charming, and warm. You get along with almost
everyone.
 
(tampak
tidak. I consider myself a bit socially retarded. Muhuhu..)
You
work hard not to rock the boat. Your easy going attitude brings
people together.
At
times, you can be a little flaky and irresponsible. But for the
important things, you pull it together.

You
are very intuitive and wise. You understand the world better than
most people.
You
also have a very active imagination. You often get carried away
with your thoughts.
 
You
are prone to a little paranoia and jealousy
 
(I
am..*sigh*)
.
You
sometimes go overboard in interpreting signals.

You
are deeply philosophical and thoughtful. You tend to analyze every
aspect of your life.
You
are intuitive, brilliant, and quite introverted. You value your
time alone.
Often
times, you are grumpy with other people. You don’t appreciate them
trying to interfere in your affairs.

You
are usually the best at everything … you strive for perfection.
You
are confident, authoritative, and aggressive.
You
have the classic "Type A" personality.
 
(sudah
kuduga..)

You
are a seeker. You often find yourself restless - and you have a
lot of questions about life.
You
tend to travel often, to fairly random locations. You’re most
comfortable when you’re far away from home.
You
are quite passionate and easily tempted. Your impulses sometimes
get you into trouble.
"

Begitulah..
Ngomong-ngomong
apakah Anda benar-benar percaya bahwa nama Anda menentukan karakter
Anda?? Kata orang, nama adalah doa. Makanya para calon orangtua rela
bersusah payah dan berbingung-bingung menentukan nama yang baik bagi
anaknya. Makanya juga buku-buku nama-nama bayi laris manis di
pasaran. Orang jawa sebenarnya sudah dari dulu punya tradisi
menentukan “nama baik”, berharap bahwa sang empunya nama akan
menjadi seperti namanya. Contoh yang legendaris, “Soeharto” means
“kaya raya” (Soe/Su = baik; Harto = harta). Tapi sepertinya
tradisi ini mulai luntur. Orang mulai menitikberatkan ke”keren”an
dan ke”enak”andidengar pada saat memberi nama anak, cucu, atau
kerabat. Makanya sekarang banyak nama-nama yang ajaib, “wah”, dan
enak didengar tapi terkadang kurang bermakna.

 

Tapi
apalah arti sebuah nama?? Seperti kata Shakespeare “
for
Rose would always smell good even when its name is taken of it
”.
Saya selalu percaya bahwa kitalah yang akan memberikan arti bagi nama
kita dan bukan sebaliknya. Bagaimana kita memberi arti pada nama kita
ditentukan oleh perkataan, sikap, dan perbuatan kita. Nama kita akan
diingat karena perkataan, sikap dan perbuatan kita. Tak ada artinya
kalau nama kita indah tapi perbuatan kita “busuk”. No one would
remember us. Still, nama merupakan hal yang penting karena represent
our personal identity yang membedakan kita satu dengan yang lain.

 

As
for my name, Woro Ireng Renoati, “Woro” berarti “berita baik”
atau bisa juga “anak perempuan”, “Ireng” bisa berarti “hitam”
(mungkin dulu saya bayi yang hitam..muhuhu..) sekaligus nama gadis
Wara Sumbadra, tokoh dalam pewayangan, istri Arjuna, wanita paling
cantik sedunia. Konon, saat dewa menciptakan kecantikan, kecantikan
itu dibaginya menjadi dua. Separo diberikan pada Dewi Roro Ireng
(nama Wara Sumbadra sebelum menikah dengan Arjuna) dan separonya
dibagi ke jutaan gadis lain yang ada di dunia. Renoati means “riang
hati” (Reno = senang, bahagia, menyenangkan; Ati = hati). Jadi Woro
Ireng Renoati bisa diartikan anak perempuan yang selalu riang hati.
Menurut Anda, nama itu cocok untuk saya?? :D

 

So,
what does your name mean??

Selamat Ulang Tahun Pancasila!

June 3rd, 2008 by woro-14

Tanggal
1 Juni kemarin kita memperingati hari kelahiran Pancasila. Di TV
minggu lalu ada acara lucu, John Pantau. Dia keliling untuk ngetes
apakah orang-orang hapal sila-sila Pancasila. Ternyata sebagian besar
tidak hapal. Bahkan Menpora Adhyaksa Dault juga mengelak ditanyai dan
malah mengembalikan pertanyaan ke John Pantau. Kekeke.. Ada yang
ngeles bahwa Pancasila nggak perlu dihapalkan, yang penting
diamalkan. Setuju si.. tapi gimana Anda mau mengamalkan sesuatu yang
Anda bahkan nggak bisa sebutkan, right?? So, here’s sila-sila dalam
Pancasila, so you wouldn’t be publicly humiliated in case John
Pantau got you on his hidden camera. Hehehe.. Mari amalkan Pancasila
dalam kehidupan pribadi, berkomunitas, dan bernegara. Kita buktikan
bahwa Pancasila memang sakti!! Merdeka!! *berapi-api, pengaruh seabad
Kebangkitan Nasional*


Untitled02_1Pancasila sebagai dasar negara
Republik Indonesia berisi :

    1. Ketuhanan Yang Maha Esa

    2. Kemanusiaan
    Yang Adil Dan Beradab

    3. Persatuan
    Indonesia

    4. Kerakyatan
    Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan      Dalam
    Permusyawaratan/Perwakilan

    5. Keadilan
    Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan

June 3rd, 2008 by woro-14

Wauw..
sekarang ada KBBI
online
*diterjemahkan
dalam Bahasa Indonesia jadi
dalam
jaringan (daring)
*!!
Sesuai dengan namanya, ini adalah versi tekno-nya KBBI. Sangat
bermanfaat untuk menemukan arti kata dalam Bahasa Indonesia. Praktis
banget, nggak perlu bolak-balik halaman kamus, hasilnya instan, bisa
langsung di
copy-paste
ke
dokumen/tugas-tugas Anda, plus bisa diakses dari
handphone
juga. Bagi orang seperti saya, yang merupakan bagian dari generasi
instan, KBBI daring bagaikan surga dunia. Kekeke..
 Just
log on to
http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
dan dapatkan semua yang Anda perlukan dari kata-kata Bahasa Indonesia
di sana. Terima kasih Departemen Pendidikan Nasional Republik
Indonesia dan Pak Dendy Sugono (sang Kepala Pusat Bahasa). Saya
mencintai Anda semua. Mari cintai Bahasa Indonesia! :D

Untitled_1

 

Visit Indonesia 2008

April 17th, 2008 by woro-14

3148_11424_visitindonesiayear200Sebagai wujud nyata usaha “membangunkan” industri pariwisata Indonesia yang bisa dibilang mati suri, pemerintah meluncurkan program Visit Indonesia 2008 [saya tidak yakin apakah ada kata “Year”nya atau tidak sebelum tulisan tahun 2008. Yang jelas di logo resminya sih tidak pakai “Year”]. Saya, sebagai warga negara dan peminat pariwisata, tentu saja antusias dengan program ini. Terakhir kali kalau tidak salah Visit Indonesia digaungkan secara besar-besaran pada pertengahan 1990an dengan logo badak bercula satu yang mengenakan kaos bergaris-garis horizontal berwarna merah putih. Logo Visit Indonesia kali ini (tahun 2008) merupakan paduan lima warna (hijau muda, ungu muda, jingga, biru muda, dan merah (muda??)) yang membentuk siluet burung Garuda. Saya sendiri sangat menyukai logo ini karena kesederhanaan, kedinamisan, dan sentuhan modernnya. Logo dibuat dalam dua versi, berlatar hitam dan putih. Untuk yang berlatar putih bisa dilihat di http://www.budpar.go.id/filedata/3148_1142-4.VisitIndonesiaYear200.jpg. Sementara yang berlatar hitam bisa diunduh di http://www.budpar.go.id/filedata/3148_1143-5.VisitIndonesiaYear200.jpg.

Konsep logo Visit Indonesia 2008 sendiri adalah sebagai berikut [dikutip langsung dari situs resmi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia - http://www.budpar.go.id/page.php?ic=651&id=3147]

1) Bentuk Logo akan mengambil konsep Garuda Pancasila sebagai dasar Negara, tetapi dengan pengolahan yang modern.

2) 5 sila akan digambarkan berupa 5 Garis Warna yang berbeda dan merupakan simbol diversity Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman.

3) Logo akan diolah menjadi bentuk dan warna yang dinamis sebagai perwujudan dari Dinamika Indonesia yang sedang berkembang.

4) Jenis Huruf dari Logo akan mengambil dari elemen otentik Indonesia yang disempurnakan dengan sentuhan modern.

Depbudpar menyediakan situs resmi pariwisata Indonesia di http://www.my-indonesia.info/ dengan “judul” situs Indonesia Tourism: Official Site - Ministry of Culture, Republic of Indonesia. Bagi yang penasaran dengan agenda Visit Indonesia 2008 silakan mengunjungi http://www.budpar.go.id/filedata/3148_1140-9.CalenderEventVIY2008.pdf dan jangan lupa promosikan pariwisata Indonesia pada kenalan di mancanegara. Cheers.

Saya dan Lelaki Itu

April 16th, 2008 by woro-14

Graphic1_1

Saya dan dia begitu berbeda..

Huruf awal namanya saja merupakan kebalikan huruf awal nama saya.

Dia kurus. Saya bisa kena amuk massa kalau mengaku kurus.

Saya pelupa. Dia bagaikan reminder berjalan.

Dia altruis. Saya egois.

Saya sembrono. Dia telaten.

Dia sensitif. Saya hati batu.

Saya suka yang praktis. Dia masokis.

Dia detail. Saya generalis.

Saya terlalu banyak rencana. Dia spontan.

Dia sangat sabar. Saya tidak sabaran.

Saya suka kuning. Dia suka biru.

Dia sosialis. Saya individualis.

Saya suka semua hal yang dia tidak suka. Dia suka semua hal yang saya tidak suka.

Dia kuat dalam hal-hal di mana saya lemah. Saya kuat dalam hal-hal di mana dia lemah.

Singkat kata, dia adalah kebalikan dari saya. Saya adalah kebalikan dari dia.

Kami memutuskan untuk berjalan bersama dan sejak itu beda menjadi biasa..

Hikayat Lalat Tsetse

April 16th, 2008 by woro-14

Ada hari-hari tertentu di mana saya mengantuk sepanjang hari dan menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Begitu khusyuk dan lamanya saya tidur sampai-sampai begitu sulit untuk dibangunkan. Pada hari-hari seperti ini saya biasanya beralasan bahwa saya diserang lalat tsetse. And here’s why.

100pxtsetse_headproboscis_2 Tsetse adalah lalat berukuran cukup besar dan berasal dari Afrika [saya tidak yakin lalat ini berkulit hitam juga atau tidak] yang hidup dengan cara mengisap darah dari binatang bertulang belakang (vertebrata). Tsetse meliputi seluruh lalat dari genus Glossina dari famili Glossinidae. Tsetse telah lama diteliti oleh ilmuwan karena mereka merupakan parantara biologis dari trypanosomi Afrika yang mengakibatkan penyakit yang mematikan termasuk sleeping sickness pada manusia dan nagana pada ternak.

Tsetse berpenampakan mirip lalat rumah tapi bisa dibedakan dari karakter anatomi mereka. Tsetse melipat sayap sepenuhnya pada saat tidak terbang sehingga sayap yang satu tertumpuk di atas sayap lain menutupi perut mereka. Tsetse telah hidup selama 34 miliar tahun! Fosilnya yang tertua ditemukan di Colorado. Jadi Tsetse ini bisa disebut sebagai Si Mbah-nya bangsa lalat.

Most people don’t buy my tsetse-bite-effect excuse. Why? Simply because this creature is hardly live here in Indonesia. D’oh! Gotta find better excuse for my sleepiness. Maybe hibernation will do. Cheers!

Pindahan..pindahan..

February 19th, 2008 by woro-14

Pengumuman ini ditujukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan keberadaan saya. Saya pindahan, teman-teman. Jadi sekarang lupakan Kenari 1B kalau mau mencari saya ya.. Sekarang saya menghuni distrik metropolitan Wedomartani yang keberadaannya dalam peta Jogja agak saya ragukan kecuali peta Jogja Anda memuat wilayah Sleman dengan detail. Agak remote soalnya. Anda akan melewati sawah nan indah membentang, pepohonan lebat, sungai berkelok, dan bonus memandangi gunung Merapi nan menjulang dalam perjalanan menuju tempat tinggal saya. Cihuy dah pokoknya! Muahaha..

Bagi yang berkepentingan dengan tempat tinggal saya silakan ketik REG<spasi>WORO lalu kirim ke nomor hape saya. Muhaha.. Kidding. Pokoknya hubungi saya saja kalau memerlukan lokasi tempat tinggal saya. Demikian pengumuman ini saya sampaikan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Cheers!

PS. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah berkunjung. Jangan malu-malu untuk datang lagi. Tak perlu sungkan juga untuk membawa makanan yang banyak. Kekeke.. >:D

Hikayat Si Gendut

January 24th, 2008 by woro-14

Akhir-akhir ini nyokap dan adik gw sungguh rajin mengingatkan gw bahwa gw bertambah gendut. Pokoknya tak ada kesempatan yang disia-siakan untuk mendeskripsikan segendut apa gw. Gw, nyokap gw + adik gw emang selalu ledek-ledekan masalah gendut-gendutan ini. Gw sendiri santai-santai saja. I do realize that I’ve gained some weight tapi hal itu nggak pernah jadi masalah buat gw. Kenapa? Satu, gw *masih* merasa sangat nyaman dengan tubuh gw. Dua, kekasih gw tercinta tidak *well, tepatnya belum* protes. Jadi kalo kita eliminasi dua celana jeans gw yang nggak muat lagi, kita anggap aja nggak ada masalah. Kekeke..

Until yesterday.

Kmaren ini gw mengalami dua insiden gendut berturut-turut.

Insiden Gendut Episode 1

Lokasi: Laundry Langganan Gw

Setting: Gw dan ibu laundry udah cukup lama tidak bertemu. Kira-kira lima bulanan (tiga bulan pas gw ke Surabaya, dua bulan pas gw ngabur ke Bandung)

Gw adalah tipe manusia yang tidak mencuci. Satu, karena gw nggak ada waktu *biasa, sibuk jumpa fans dan pemotretan. Muahahaha..*. Dua, karena gw bukan manusia telaten mencuci, kalo nyuci sendiri pasti aja ada bagian kotor yang kelewat. Jadi gw memutuskan untuk menyerahkan urusan cuci mencuci ini pada ahlinya, yaitu tukang laundry.

Kebetulan gw cukup akrab dengan ibu laundry langganan gw ini. Nah, minggu lalu gw ngelaundry baju segaban-gaban dan super kotor karena sering dipake ujan-ujanan dan bebecekan. Karena satu dan lain hal, gw baru bisa ambil itu baju kmaren ini. Pas gw dateng, kebetulan ibu laundry gw lagi ada di sana *biasanya yang ada cuma pegawainya*. Seperti biasa gw ambil baju dan bayar. Pas lagi bayar ini, ibunya ngeliatin gw sambil senyam senyum dan berkata:

Ibu Laundry (IL) : Mbak Woro, saya boleh nanya sesuatu nggak? *sambil tersenyam senyum mencurigakan*

Gw  :                    umh.. boleh bu.. *curiga dan agak panik. Jangan-jangan ada celana dalam gw yang masih kotor ikut nyemplung ke keranjang laundry gw dan dicuciin sama ibunya! Mampus! Sebagai info saja, meskipun gw males mencuci, undies gw tangani sendiri. Hina hukumnya bagi gw kalo undies gw sampai jatuh ke tangan orang lain. Makanya gw udah mau panik aja sama pertanyaan ibunya..*

IL      :     Tapi Mbak Woro jangan marah ya.. ini cuma tanya aja kok.. nggak ada maksud apa-apa..

Gw :     Eh..i..iya Bu.. Tanya aja.. *semakin parno*

IL      :     Umh.. anu.. Mbak Woro… *diam sejenak* GENDUTAN ya??

Gw  :     -speechless selama beberapa detik, tidak menyangka arah pertanyaannya-

                Eh.. iya ni Bu. Emang gendutan pulang dari Surabaya.. *cengarcengir*

IL      :     *tertawa lega* Ah syukurlah Mbak Woro nggak marah ditanya bgtu. Iya lho Mbak, pas Mbak Woro nganter baju kmaren kok keliatannya BERISI GIMANAAA GITU.. Tapi nggak berani nanya, nggak enak..

Gw  :     Ahaha.. nggak papa kok Bu. Emang gendutan. Makanan di Surabaya enak-enak soalnya. Hehehe.. Banyak lemak banyak rezeki Bu.

                *Dalam hati agak heran: lah udah tau nggak enak kok masi ditanyain juga. Muhuhu..*

—tamat—

Insiden Gendut Episode Dua

Lokasi : Butik –tiitttt–  *sensor*

Setting : Gw suka liat-liat, coba-coba, dan occasionally beli baju di butik ini. Penjaganya baru, belum pernah liat. Jadi gw dan dia sama-sama nggak kenalnya.

Gw naksir kemeja. Gw suka modelnya *lengan pendek, gw nggak suka sama yang panjang-panjang. Kekeke..* dan warnanya.  Si Mbak dengan proaktif menawari gw untuk mencoba yang tentunya tidak gw sia-siakan. Gw masuk kamar ganti dan cobain itu kemeja. Ternyata pas gw coba, bagian di pinggang terlalu besar buat gw *dia agak menggembung gitu* dan malah bikin gw keliatan lebih gendut dan pendek *kayak doraemon*. Jadi, gw ganti, keluar + kasih itu baju sama si Mbak.

Si Mbak Penjaga (SMP) : Gimana Mbak?? Suka??

Gw  : Nggak begitu Mbak. Soalnya bagian bawahnya melebar + gembung gitu, jadi kebesaran gitu.

SMP       : Yang bagian mananya?

Gw  : Ini sampe sini *menunjuk bagian yang gw maksud*

SMP mengamat-amati bagian yang gw tunjuk dengan lumayan serius dan sempat CCP (curi-curi pandang) ke gw yang lagi sibuk liat-liat baju lainnya.

SMP       : *sambil menggantung kemeja itu ke tempat semula*

             Kok bisa ya kebesaran Mbak? Padahal badan Mbaknya udah lumayan BESAR lho..

Gw  : #%$*@^&! *dalam hati*

—tamat—

Jadi, begitulah ceritanya. Pas gw cerita sama nyokap + adik gw *tentu saja* mereka ngakak dengan puasnya. “Dari dulu dibilangin gendut nggak percaya siiiiii…” gitu katanya. Cowok gw juga ngakak, tapi nggak berkomentar *takut kena gampar mungkin. Kekeke..*

Kenapa ya berat badan kok masalah amat buat cewek? Dan nggak serunya, kalo toh si cewek itu memutuskan untuk bersahabat dengan berat badannya, orang lain yang protes dan sibuk ngeledekin. Gw si santai-santai aja. Kebetulan gw bukan jenis manusia yang sensi untuk urusan ini. Jadi nggak pernah bener-bener sakit hati karena komentar dan ledekan orang lain. Maksud gw, iya gw tau gw emang agak berisi tapi terus kenapa? Selama gw sehat, nyaman beraktivitas dan ukuran baju masi M dan 8, why should I bother my weight? Gw malah jadi mikirin perasaan jutaan cewek lain di dunia ini. Yang sensi kalo disinggung’ berat badan. Yang langsung diet mati-matian kalo diledekin. Waduh, gw ngebayanginnya aja udah ngrasa sengsara. Gimana yang ngjalaninnya ya?? Maksud gw, pasti kan rasanya unsecure banget hidup dikendalikan oleh komentar dan pendapat orang lain. Kalo gw si santai. Badan badan gw knapa loe yang musti ribut gitu kan? Tapi kan banyak orang yang nggak bisa begitu karena satu dan lain hal. Harus kurus supaya tetap disayang, harus kurus supaya tetap populer, harus kurus supaya tetap banyak teman, harus kurus supaya tetap dipuji, harus kurus supaya keliatan oke di depan kamera, harus.. harus.. harus.. aduuh.. nggak tega gw bayanginnya. Pasti berat banget tu.

Gw nggak alergi sama wanita langsing dan penurunan berat badan. True, bahwa some girls are prettier when they’re slim. But some others look even more wonderful in their curves. Pada akhirnya kan kita sendiri yang bisa mengenali yang terbaik buat kita. Kalo emang kita terlihat dan *yang paling penting* merasa lebih baik ketika kita kurus ya.. kuruslah.. Kalo kita merasa lebih nyaman ketika kita tidak terlalu kurus, ya jangan memaksakan diri untuk jadi kurus. Menurut gw, kalo kita emang pengen nurunin atau naikin berat badan, ya lakuin aja tapi dengan alasan yang tepat. Alasan yang paling tepat ya buat diri kita sendiri. Kalo kita ngerasa bakalan lebih nyaman dengan size baru yang kita inginkan, ya itulah alasannya. Bukan gara-gara diledekin temen, disuruh pacar, atau gara-gara komentar sembarangan dari mbak-mbak penjaga butik *masi dongkol. Kekeke.. Habis, customer kok dikomentarin kayak gitu. Berani-beraninya…*

Jadi, girls around the world *terlalu berapi-api* tentukan sendiri size di mana kalian merasa PALING SEHAT dan PALING NYAMAN berdasarkan pendapat kalian sendiri. Once you set ur size, menjadi kurus atau gemuklah sesuai dengan yang kalian inginkan, for your own sake, not for anybody else’s. Cheers! :D

Note: Arti gendut di sini relatif loh ya.. baik untuk gw, nyokap gw, adik gw, ibu laundry maupun mbak penjaga butik. Kalo loe someday ketemu gw in a real world dan berpendapat bahwa gw sama skali nggak gendut, ya.. gw akan sungguh mencintai loe tentunya! Kekeke..

PPP (Parkir, Peron, Pipis)

January 24th, 2008 by woro-14

Note: Beberapa hari stelah gw menulis ini, gw ke stasiun lagi dan tarif parkirnya turun jadi 2500. Kalo gw tulis kayak gini lagi 4 kali, tarifnya turun jadi 500 nggak ya?? *ngelunjak*

—–

Gw lagi keki berat sama tarif parkir di stasiun tugu. Di sana parkir mobil 3000 rupiah. Sebenernya si gw nggak keberatan sama itu tarif kalo gw ke stasiunnya sekali-sekali aja. Tapi lately, karena satu dan lain hal, gw jadi sering ke stasiun dan itu tarif parkir jadi terasa mencekik leher. Biasa, kalo belum berkepentingan, nggak protes. Giliran udah berkepentingan baru berasa. Kekeke..

Yang paling bikin gw bete tu bukan masalah nominalnya. Tapi gw ngrasanya apa yang gw dapet nggak sebanding sama apa yang gw berikan. Maksud gw, tarif parkir normal kan 1000 *di wilayah Jogja non-mall dan di luar area tarif khusus loh ya..* Stasiun tadinya udah terapin tarif sedikit di atas normal, 1500. Ntah sejak kapan ujug-ujug dia jadi 3000 aja gitu. Masalahnya kenaikan tarif ni nggak diikuti peningkatan kualitas pelayanan parkir. Ruang parkir ya segitu-gitunya aja. Tukang parkir pun ntah kmana. Seringan juga tukang becak, tukang ojek, tukang taksi yang bantuin gw kasih aba-aba parkir *secara gw lemot parkir di ruang sempit. Kekeke..* Bandingin sama parkir motor yang 1000 rupiah *atau 1500 ya?? gw lupa. Pokoknya lebih mahallah dari parkir normal* tapi tukang parkirnya lumayan slalu stand by di parkiran, bantuin geser-geser motor, masukin + keluarin motor kalo parkiran lagi penuh banget. Makanya gw nggak pernah protes tarif parkir yang motor.

Kenapa ya parkir tu kok jadi kayak kolam duit buat pengelola tempat umum? ? Sebagian orang protes kalo lagi makan di pinggir jalan *misalnya di Jalan Kaliurang* ditarik biaya parkir. Kalo gw setuju tu. Masalahnya jalan kan fasilitas umum dan memang tidak diperuntukkan untuk jualan, makan-makan, maupun tempat parkir buat yang mau makan. Jadi wajarlah kalo yang parkir di sana ditarik biaya *walopun ilegal si dan gw curiga hasilnya masuk pundi pribadi si tukang parkir juga*. Tapi kalo tempat umum yang memang sengaja dibangun untuk menerima pengunjung seperti mall, kantor, stasiun, airport, dan sebagainya, menurut pendapat gw seharusnya nggak boleh ditarik parkir. Kenapa? Karena itu konsekuensi si pemilik dan pengelola tempat umum itu. Dia kan udah berani membangun tempat-tempat itu dan itu tempat memang dimaksudkan untuk menarik pengunjung, pelanggan, costumer atau klien, jadi ya harus berani donk menyediakan lahan parkir yang free, gratisan. Tempat parkir di tempat-tempat itu harusnya menjadi salah satu fasilitas yang disediakan sama si pemilik bangunan. Termasuk menyediakan kamar mandi, gratis. Itu artinya dia memfasilitasi dan menghargai kebutuhan tamu yang datang, klien yang dia tunggu-tunggu, pelanggan yang berharga dan akan memajukan bisnisnya. Eehh.. ini pipis aja pake disuruh bayar. Tega.

Makanya gw respect banget sama tempat-tempat umum yang parkir dan kamar mandinya tidak ditarik biaya. Terlepas dari masalah duitnya, menurut gw pengelola dan pemilik tempat itu menghargai pengunjungnya. Dan hal kayak gitu langka banget di kota besar. Slogan si “pelayanan prima” tapi lahan parkir buat pengguna jasa aja dikomersialisasi. Hmph.. Pernah ya di Surabaya gw mau ketemu temen gw di salah satu hotel punyanya jaringan hotel internasional, gw bawa motor, dan tau nggak tarif parkir di sana berapa? Lima belas ribu! Mampus nggak tu? Bagus gw nggak ngamuk di sana dan memilih mengaku jadi tamu di sana *pake nomor kamar temen gw* dan dapet parkir gratis buat penghuni hotel *iya, tahu, dosa kalo bohong, tapi I have my own reason. Dan bukan gara-gara duitnya*. Itu aja tiket parkirnya harus dimintain cap ke bagian administrasi hotel. Buset.. *gelenggelengkepala*

Balik lagi ke stasiun. Ada satu hal lagi yang gw sebel. Yaitu, tiket peron. Terlepas dari harganya (1500 rupiah), menurut gw itu juga eksploitasi pelanggan. Sekarang, apa tujuannya dia menerapkan tiket peron *terutama buat pengantar*?? Kalo emang pengelola stasiun pengen ruang tunggu stasiun nggak penuh sesak sama pengantar yang cuma berkepentingan dadah-dadahan sama penumpang yang mau berangkat, ya silakan tetapkan garis batas pengantar kayak di airport. Pengantar gak boleh masuk sama skali. Sebagai gantinya, tembok pembatas di samping-samping loket tiket silakan diganti dengan kaca bening yang besar dan tebal sehingga pengantar tidak kehilangan hak asasinya untuk melepas kepergian orang yang dia antarkan. Kaca yang tebal bertujuan supaya kaca nggak capat retak/pecah kalo ternyata jumlah pengantar membludak dan nggak behave sehingga dorong-dorongan di depan kaca. Ato bagusnya kacanya dipasang teralis yang lisnya agak jarang sehingga tidak begitu menghalangi pandangan. Itu kalo memang tujuannya menghindari ruang tunggu yang padat dan penuh sesak loh ya.. Kalo menurut gw, peron tu bentuk eksploitasi pelanggan. Lah, dia nggak peduli ruang tunggu mau penuh atau enggak, yang penting semua yang masuk ke situ bayar. Kan tega tu kalo gitu caranya.

Ya gw si bukannya mau bikin masalah parkir dan peron ni jadi seolah-olah masalah yang gimana banget gitu. Secara nominal, alhamdullilah gw nggak punya kesulitan menyediakan dana-dana retribusi macam gitu. Tapi secara prinsip, gw merasa terusik. Hal yang tampaknya kecil kayak gini tu mencerminkan kualitas pelayanan publik di Indonesia. Dan karakter orang-orangnya sekalian. Mata duitan. Terlepas dari apa kepentingan mereka melakukan hal itu (bisa aja itu perusahaan mau bangkrut padahal harus menggaji karyawan atau alasan lain), harusnya mereka nggak mengeksploitasi pelanggannya. Gw *kalo sebagai karyawan* pastilah malu banget kalo tau bahwa gaji gw dibayarkan dari hasil retribusi parkir bukan karena pelayanan yang gw berikan. Tapi *iya, I do realize* bahwa things are not that simple. Memanage keuangan perusahaan tu rumit banget. Still, buat gw harusnya itu tidak menjadi alasan buat mengeksploitasi pelanggan loe dalam bentuk apapun. Masalahnya, kalo loe mencurangi pelanggan loe dalam bentuk apapun, pelanggan bakal balik mencurangi loe dalam seribu satu jenis cara lainnya *gw orang yang percaya karma*. Kayak yang gw lakukan di hotel terkenal itu tadi *brarti ntar gw kena karma juga dunk?? Gawat..*. Tapi kalo kecurangan dibalas kecurangan, kapan berhentinya? Kapan kita semua jadi orang yang lebih baik? On the other hand, kalo kita terus bayar parkir seberapapun tarif yang ditentukan pengelola tempat, ya kapan para penyedia fasilitas belajar menghargai kepentingan pelanggannya??

Gw rasa menerapkan tarif yang rasional bagi fasilitas yang dikelola bisa menjadi solusi sementara dari persoalan ini. Percaya deh, pelanggan dan orang yang lagi butuh tu pasti mau bayar berapapun, even buat parkir 5 menit ato numpang pipis doank. Tapi tolong jangan disalahgunakan donk. One day, kalo gw atau loe yang kbetulan baca ini menjadi pemilik atau pengelola gedung, kantor, mall, atau tempat umum lainnya, semoga kita nggak menjadi eksploitator pelanggan dan klien kita. Semoga kita bisa menghargai mereka dengan selayaknya. Cheers.